A. Uang Beredar
1. Pengertian Uang Beredar
Pada umumnya, masyarakat lebih mengenal istilah uang tunai yang terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang tunai adalah uang yang ada di tangan masyarakat (diluar bank umum) dan siap dibelanjakan setiap saat, terutama untuk pembayaran pembayaran dalam jumlah yang tidak terlalu besar . Uang tunai tersebut juga sering disebut sebagai uang kartal. Di Indonesia, uang kartal adalah uang kertas dan uang logam yang beredar masyarakat yang dikeluarkan dan diedarkan oleh Bank Indonesia yang berfungsi sebagai otoritas moneter.
Jika ingin melakukan pembayaran tunai dalam jumlah besar, tentunya tidak praktis jika harus dengan uang tunai . Selain berat membawanya, tentunya juga kurang aman. Pembayaran tunai juga dapat dilakukan dengan cek. Satu hal yang harus diingat bahwa seseorang yang ingin melakukan pembayaran menggunakan cek sebelumnya harus mempunyai simpanan dalam bentuk rekening giro di suatu bank umum (demand deposits). Rekening giro adalah suatu rekening simpanan di bank umum yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu . Uang dalam rekening giro di Bank Umum sering disebut dengan uang giral .
Dengan uang kartal dan uang giral masyarakat dapat melakukan pembayaran tunai secara langsung . Bagaimana dengan simpanan uang tunai dalam bentuk tabungan (saving deposits) dan ddeposito berjangka (time deposits)? . Deposito berjangka disebut dengan istilah quasy money atau near money, yaitu sesuatu yang mendekati ciri dari uang. Menurut pengertiantersebut uang yang beredar adalah Narrow Money Pluss Quasi Money:
Ms =K+D+T
Keterangan :
T= saldo deposito berjangka dan tabungan milik masyarakat pada bank.
K= Uang kartal
D= uang giral
Rekening tabungan dan deposito berjangka adalah sesuai dengan yang telah diperjanjikan antara penabung dengan bank . Karena penarikan tidak dapat dilakukan sewaktu-waktu, pemilik rekening tabungan dan deposito berjangka tersebut untuk sementara tidak dapat melakukan pembayaran secara langsung karena harus menunggu sampai rekening tabungan dan deposito berjangka tersebut jatuh tempo . Uang yang disimpan dalam rekening tabungan dan deposito berjangka disebut sebagai uang kuasi.
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa otoritas moneter(bank sentral) dan Bank Umum adalah lembaga yang dapat menciptakan uang. Bank Sentral mengeluarkan dan mengedarkan Uang kartal sedangkan bank umum mengeluarkan dan mengedarkan uang giral serta uang kuasi . Kedua lembaga ini disebut sebagai lembaga yang termasuk dalam sistem moneter .
Dengan mengeluarkan dan mengedarkan uang berarti sistem moneter mempunyai kewajiban kepada sektor swasta domestik atau penduduk dan masyarakat yang terdiri dari individu , bahan dan masyarakat yang terdiri dari individu, badan usaha dan dan lembaga lainnya. Berdasarkan Pengertian tersebut uang beredar didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik .
2. Jenis-Jenis Uang Beredar
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, uang beredar didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik. Di Indonesia saat ini mengenal dua macam uang beredar yaitu :
a. Uang beredar dalam arti sempit, sering diberi simbol M1, didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik yang terdiri dari uang kartal (C) dan uang giral (D).
b. Uang beredar dalam arti luas, yang sering juga disebut sebagai likuiditas perekonomian dan diberi simbol M2 didefinisikan sebagai kewajiban sistem moneter terhadap sektor swasta domestik yang terdiri dari uang kartal C, uang giral D, dan uang kuasi T. Dengan demikian, M2 dan M1 ditambah dengan uang kuasi T .
Sementara itu, definisi uang beredar di berbagai negara dapat bervariasi,sesuai dengan kondisi sektor keuangan dan perbankan serta kebutuhan otoritas moneter negara yang bersangkutan.
3. Mekanisme penciptaan uang
Berdasarkan pengelompokan peranannya secara umum dikenal tiga pelaku utama yaitu otoritas moneter, bank umum dan dan masyarakat atau sektor swasta domestik titik pada dasarnya ketiga pelaku tersebut berinteraksi sedemikian rupa sehingga penyediaan atau penawaran uang oleh otoritas moneter dan bank sesuai dengan kebutuhan permintaan masyarakat akan uang tersebut. Secara sederhana dapat diuraikan: otoritas moneter menciptakan uang kartal, sementara bank umum menciptakan uang giral dan uang kuasi dan masyarakat akan menggunakan uang yang diciptakan oleh otoritas moneter dan Bank Umum tersebut untuk melaksanakan kegiatan ekonomi.
4. Hubungan Uang Primer Dengan Uang Beredar
a. Keberadaan Angka Pelipatan Ganda Uang.
Otoritas moneter dalam mengatur jumlah uang beredar tergantung pada berbagai factor,terutama karena bank umum juga mempunyai peranan dan Kemampuan untuk menciptakan uang giral dan uang kuasi. Sementara itu uang beredar juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam membelanjakan uangnya. Sehingga perlu diketahui terlebih dahulu konsep rangka pelipatan ganda uang (money multiplier). Konsep money multiplier yang menghubungkan antara jumlah uang inti dengan jumlah uang yang beredar. Nilai dari money multiplier tergantung kepada kecenderungan masyarakat memegang uangnya dalam bentuk uang kartal(u=K/Ms) dan Berapa besar cadangan Yang dipegang bank untuk menjamin uang giral (v=R/D). Semakin besar u dan d semakin kecil nilai money multiplier. Nilai money multiplier biasanya lebih besar dari 1, artinya setiap Rp 1. Uang inti dapat menimbulkan lebih dari Rp 1 uang beredar.
5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Uang Beredar
Faktor-faktor yang mempengaruhi uang beredar dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Angka Pelipatan Ganda Uang.
Faktor-faktor ini tidak lain adalah faktor-faktor yang mempengaruhi determinan uang primer itu sendiri yaitu antara lain Curency Ratio (c) yaitu masyarakat dalam memilih memegang uang kartal atau uang giral, Time and Saving deposito ratio (t) yaitu dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam memilih memegang uang kuasi atau uang giral, Reserve ratio(r) yaitu ketentuan otoritas moneter atau likuiditas bank. Selain itu ada pula biaya relatif opportunity cost yaitu suku bunga, pendapatan masyarakat Dan kemajuan layanan sektor perbankan.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Uang Primer
Faktor-faktor ini terkait dengan perubahan transaksi keuangan oleh masyarakat yang tercermin pada pos-pos neraca otoritas moneter, baik dari sisi penggunaan uang primer (Uang kartal dan Giro/ cadangan bank umum di bank sentral) maupun faktor yang mempengaruhi uang primer (aktiva luar negeri bersih, aktiva dalam negeri bersih dan aktiva lainnya bersih) .
Perubahan yang terjadi pada transaksi keuangan dalam sisi aktiva Neraca Otoritas Moneter terkait dengan struktur dan perkembangan ekonomi negara yang bersangkutan . Sebagai contoh,apakah suatu negara memiliki sektor ekspor yang kompetitif dan struktur keuangan pemerintah yang kuat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan uang primer sangat terkait dengan beberapa faktor utama antara lain: pola transaksi masyarakat dengan luar negeri misalnya ekspor-impor dan aliran modal, perkembangan dan mekanisme di bidang perkreditan serta manajemen keuangan pemerintah yang tercermin pada struktur anggaran belanja pemerintah. Faktor-faktor tersebut dipengaruhi oleh kekuatan struktur dan perkembangan ekonomi suatu Negara .
Dengan demikian, secara garis besar dapat disimpulkan beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan uang beredar antara lain: tingkat pendapatan masyarakat, suku bunga kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan otoritas moneter, dan faktor-faktor lain yang mencerminkan kekuatan struktur dan perkembangan ekonomi suatu negara.
B. Kebijakan Moneter
1. Pengertian Kebijaksanaan Moneter
Kebijaksanaan moneter adalah Tindakan pemerintah atau bank sentral untuk mempengaruhi situasi makro yang dilaksanakan melalui pasar uang. Secara lebih khusus kebijaksanaan moneter bisa diartikan sebagai tindakan makro pemerintah atau Bank Sentral dengan cara mempengaruhi Proses penciptaan uang. Dengan mempengaruhi proses penciptaan uang pemerintahan bisa mempengaruhi jumlah uang beredar titik dengan mempengaruhi jumlah uang beredar pemerintah bisa mempengaruhi tingkat bunga yang berlaku di pasar uang. Melalui tingkat bunga,pemerintah bisa mempengaruhi pengeluaran investasi dan selanjutnya permintaan agregat dan akhirnya tingkat harga dan GDP riil. Inilah mata rantai kebijaksanaan moneter menurut Keyness:
Kebijakan Moneter Ms - r- I Z - P, Q.
Kebijakan moneter memiliki peran yang sangat penting dalam penyelesaian krisis ekonomi yang sedang terjadi diindonesia. Apalagi Mengingat bahwa krisis ini telah berkembang menjadi fenomena yang dikenal sebagai Financial distress, yaitu proses berupa penurunan permintaan akan likuiditas perekonomian sebagai akibat meningkatnya permintaan akan Uang kartal. Apabila dibiarkan terus berlanjut, proses ini akan menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, pemulihan ekonomi sangat tergantung kepada ketepatan strategi kebijakan moneter yang diambil khususnya dalam rangka mengembalikan kepastian nilai tukar.
Kebijakan moneter suatu bank sentral atau otoritas moneter dimaksudkan untuk mempengaruhi kegiatan ekonomi riil dan harga melalui mekanisme transmisi yang terjadi . Mekanisme transmisi kebijakan moneter dapat bekerja melalui berbagai saluran, seperti suku bunga, agregat moneter, kredit, nilai tukar, harga aset, dan ekspektasi ( Warjiyo dan Agung, 2002).
2. Transmisi Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter bertujuan untuk menstabilkan menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang salah satunya tercermin dari tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Untuk mencapai tujuan itu, Bank Indonesia menetapkan suku bunga kebijakan yang disebut BI rate sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi . Namun, jalur atau transmisi dari keputusan BI rate sampai dengan pencapaian sasaran inflasi tersebut sangat kompleks dan memerlukan waktu(time lag) . Mekanisme ini menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi berbagai variabel ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh Ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan/sektor keuangan serta sektor riil . Perubahan BI rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur diantaranya jalur suku bunga , Jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi.
3. Alternatif Strategi Kebijaksanaan Moneter
Poole (1970) mendefinisikan 3 alternatif strategi kebijakan moneter yaitu: strategi jangkar uang beredar( money stok targeting), strategi jangkar suku bunga( interest Rate targeting) dan strategi kombinasi sistematis antara sasaran volume uang beredar Dan tingkat suku bunga. Ketiga strategi tersebut lebih relevan ditetapkan di dalam suatu perekonomian tertutup (derajat mobilitas modal rendah) atau di dalam suatu perekonomian terbuka yang menetapkan kebijakan nilai tukar mengambang, karena hanya di dalam kedua bentuk perekonomian tersebut otoritas moneter memiliki independensi penuh dalam mengendalikan jumlah uang beredar atau suku bunga domestik .
Poole menunjukkan bahwa diantara dua pilihan ekstrem yaitu: jangkar uang beredar dan jangkar suku bunga strategi yang tepat tergantung kepada jenis tekanan ekonomi makro yang terjadi. Apabila suatu perekonomian mengalami tekanan tekanan riil (real shocks) sehingga kurva IS mengalami pergeseran maka strategi jangkar uang beredar adalah pilihan yang lebih tepat karena perubahan suku bunga Bagi perekonomian tertutup atau perubahan nilai tukar bagi perekonomian terbuka akan meredam tekanan-tekanan tersebut dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap stabilitas harga atau produksi. Sebaliknya apabila yang terjadi adalah tekanan-tekanan moneter(monetary shocks) maka yang lebih tepat adalah strategi jangkar suku bunga karena perubahan uang beredar atau neraca pembayaran akan meredam tekanan tekanan tersebut dan meminimalkan dampak negatifnya terhadap stabilitas harga atau produksi.
4. Kebijaksanaan Sisi Penawaran
Sampai saat ini kita masih mengikuti logika umum dari teori keyness, yang mengatakan bahwa kunci dari pengendalian makro adalah pengelolaan permintaan agregat( demand management). Apa yang akan terjadi dengan P(tingkat harga) dan Q(GDP riil) hanyalah mengikuti apa yang yang terjadi dengan Z(permintaan agregat). Kebijaksanaan-kebijaksanaan makro haruslah diarahkan kepada Bagaimana mempengaruhi Z agar pada tingkat yang sesuai dengan apa yang diinginkan. Menurut dasar logika ini, penawaran agregat dianggap seolah-olah sebagai sesuatu dalam jangka pendek tidak bisa dipengaruhi secara langsung Tetapi hanya secara tidak langsung lewat Z .
Dari segi analisa demand management penurunan tingkat bunga ini akan merangsang pengeluaran investasi (I) selanjutkan meningkatkan Z dan akhirnya menaikkan Kyu dan apabila kita sudah sampai pada posisi yang naik pada kurva penawaran agregat akan menaikkan P. Tetapi sekarang kita bisa bertanya: apakah tidak mungkin penurunan tingkat bunga ini juga bisa mendorong produksi secara langsung, sehingga kurva penawaran agregat bergeser ke kanan. Misalnya saja apabila kita menurunkan tingkat bunga untuk kredit moda kerja, maka ada kemungkinan produksi terjadi lebih lancar dari kurva penawaran agregat bergeser ke kanan sehingga kebijaksanaan tersebut bisa mengurangi tekanan inflasi.
Kebijaksanaan makro mempunyai pengaruh terhadap Sisi permintaan agregat yang berlawanan dengan pengaruhnya pada sisi penawaran agregat nya misalnya, penurunan biaya masuk, penurunan pajak perseroan dan peningkatan pengeluaran pemerintah jelas-jelas mempunyai pengaruh merangsang permintaan agregat( menggeser kurva Z ke kanan), tetapi juga bisa mempunyai pengaruh terhadap kelancaran produksi sehingga menggeser kurva penawaran agregat ke kanan. Akhir-akhir ini ahli ekonomi makro mulai sadar akan pentingnya pengaruh kebijaksanaan makro pada sisi penawaran sehingga analisa makro beserta resep-resep kebijaksanaan yang disarankan menjadi lebih seimbang. Kesulitan utamanya adalah bahwa sampai saat ini belum bisa dirumuskan hubungan yang jelas antara kebijaksanaan-kebijaksanaan makro dengan sisi penawaran ini .